Sunday, October 3, 2021

PM Australia AKui Tak Menyesali Keputusan Pembatalan Pembelian Kapal Selam dari Prancis

 

Perdana Menteri (PM) Australia, Scott Morrison, sumber foto: REUTERS/Pascal Rossignol


Media Tangkas - Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison mengaku tidak menyesali keputusan pembatalan pembelian kapal selam dari Prancis. Morrison mengatakan keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan kepentingan nasional Australia.


Hubungan Paris dengan Canberra berada di titik terendah, setelah Prancis menarik duta besarnya untuk Australia. Prancis marah karena negara Kanguru tiba-tiba membatalkan pesanan kapal selam bertenaga diesel dengan nilai kontrak 40 miliar dolar AS (sekitar Rp 570 triliun) yang tercatat sebagai belanja pertahanan terbesar dalam sejarah Australia.


"Saya tidak menyesali keputusan untuk mengutamakan kepentingan nasional Australia. Tidak akan pernah," kata Morrison, Minggu (19/9/2021), dikutip dari The Straits Times.


Pembatalan pembelian kapal selam berdasarkan kepentingan nasional Australia


Kemarahan Prancis itu merupakan buntut dari terbentuknya Pakta Aukus, yakni kerja sama Amerika Serikat (AS)-Australia-Inggris untuk menjaga stabilitas di kawasan Indo-Pasifik dari agresivitas China. Pakta tersebut memungkinkan AS untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir untuk Australia.


Morrison mengatakan dia memahami kekecewaan dan kemarahan Prancis, tetapi dia juga memperingatkan keputusan itu bukan sesuatu yang dibuat dalam semalam. Beberapa bulan lalu, lanjut Morrison, Australia sempat menyinggung soal kapasitas kapal selam yang masih menggunakan tenaga konvensional.


"Saya pikir, mereka (Prancis) memiliki banyak alasan untuk memahami kekhawatiran tentang kapal selam kelas serang tidak akan memenuhi kepentingan strategis kami. Kami sampaikan bahwa kami membuat keputusan berdasarkan kepentingan nasional strategis kami," katanya.


Australia tidak ingin mengungkapkan nilai kontrak dalam Pakta Aukus


Menteri Keuangan Australia, Simon Birmingham, enggan membeberkan berapa anggaran negara yang harus dikucurkan untuk mendatangkan kapal selam bertenaga nuklir dari AS.


"Itu (perbincangan) dengan sensitivitas yang sangat besar," katanya sambil menyampaikan semua perundingan bersifat rahasia.


Sementara itu, Menteri Pertahanan Australia Peter Dutton hanya mengatakan bahwa nilai kontraknya dengan AS akan jauh lebih mahal daripada nilai kontraknya dengan Prancis.


"Itu akan menjadi proyek yang tidak murah," tambahnya.


AS-Inggris-Australia bersikeras membela kepentingan nasionalnya


Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian, merasa dikhianati oleh aliansinya. Dia bahkan menyebut Presiden AS Joe Biden tidak lebih baik dari pendahulunya Donald Trump.


Prancis juga kesal karena kerja sama yang dinilai strategis itu tidak melibatkan perwakilan negara-negara Uni Eropa. Selain duta besar untuk Australia, Prancis juga menarik duta besarnya untuk AS.


Menanggapi memburuknya hubungan antar negara, Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss mengatakan pakta keamanan baru dengan Australia-AS adalah bukti bahwa Inggris juga berusaha mempertahankan kepentingan nasionalnya.


"Ini lebih dari sekadar kebijakan luar negeri abstrak, tetapi memperlihatkan kepada orang-orang di seluruh Inggris dan sekitarnya, bahwa Inggris bermitra dengan negara yang berpikiran sama untuk membangun koalisi berdasrkan nilai dan kepentingan bersama," kata Truss kepada Sunday Telegraph.


“Kami akan bekerja bersama untuk menggunakan berbagai teknologi mutakhir, dari kapal selam bertenaga nuklir pada awalnya, kemudian melihat kecerdasan buatan dan komputasi kuantum. Ini menunjukkan kesiapan kami dalam membela kepentingan kami dan menantang praktik tidak adil berdasarkan fitnah," tambahnya,