Wednesday, September 8, 2021

Begini Rahasia DKI Jakarta Bisa Dapatkan Positivity Rate Terendah se-Indonesia

 

Ilustrasi, sumber foto: BBC


Media Tangkas - Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia, menyebutkan bahwa berdasarkan laporan evaluasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per 31 Agustus 2021, positivity rate spesimen di DKI Jakarta terendah di seluruh Indonesia.


Salah satu langkah yang mendukung rendahnya positivity rate di Jakarta adalah keseriusan Pemprov DKI Jakarta dalam melakukan testing, tracing, dan treatment (3T).


“Alhamdulillah, positivity rate spesimen di DKI Jakarta sudah mencapai 6,8 persen yang terendah se-Indonesia berdasar data dari Kemenkes. Kasus aktif di Jakarta terus menurun karena adanya upaya-upaya dari semua pihak yang berkolaborasi bersama Pemprov DKI Jakarta dan memberikan dukungan dalam percepatan penanganan pandemik COVID-19 di DKI Jakarta," kata Dwi Oktavia seperti dikutip dari laman PPID jakarta.go.id, Kamis (2/9/2021).


Tes PCR di Jakarta mencapai 252,67 persen


Dwi menjelaskan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta telah melatih petugas testing dan tracing untuk cepat melacak kontak erat warga yang diketahui terpapar COVID-19.


Kini testing polymerase Chain Reaction (PCR) di Jakarta telah mencapai 252,67% atau 2,5 kali lipat dari standar pengujian PPKM Level 3. Merujuk data Kementerian Kesehatan, tes PCR di Jakarta merupakan yang tertinggi di seluruh Indonesia.


“Tracing ratio yang sebesar 6,7 juga sudah cukup baik. Karena artinya dari 1 kasus positif, dilakukan tes PCR 6-7 orang kontak erat. Tracing ratio pun akan terus kami tingkatkan agar bisa di atas 10 sesuai dengan target dari Kemenkes yang ada di laporan SILACAK,” jelasnya.


Petugas dengan tertib memasukkan data ke dalam SILACAK


SILACAK merupakan aplikasi besutan Kementerian Kesehatan untuk mendukung program penguatan tracing di seluruh Indonesia.


Dwi menjelaskan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta telah melatih petugas testing dan tracing di seluruh wilayah Provinsi DKI Jakarta untuk segera memasukkan data secara tertib dan rapi ke dalam sistem SILACAK saat mengetahui ada warga yang terpapar COVID-19 .


Namun masih terdapat beberapa kendala dalam sistem SILACAK karena Nomor Induk Kependudukan (NIK) kontak erat yang sudah dimasukkan tidak bisa dimasukan kembali.


“Karena 1 orang ini bisa menjadi kontak erat beberapa orang dalam beberapa periode, namun tidak dapat dimasukkan kembali ke sistem SILACAK. Untuk itu, kami akan terus berupaya dan berkoordinasi dengan Kemenkes untuk mengatasi ini,” tambah Dwi.


Pemprov DKI Jakarta terus meningkat 3 T


Pemprov DKI akan terus meningkatkan 3T untuk menekan angka penularan atau positivity rate di wilayah DKI Jakarta, serta berbagai upaya lainnya dalam rangka percepatan penanganan pandemi COVID-19. Misalnya, program vaksinasi yang masih aktif dilakukan bekerjasama dengan berbagai pihak.


"Data-data yang ada menunjukkan capaian DKI Jakarta dalam menangani pandemi sudah menunjukkan tren penurunan kasus. Namun, kita tidak boleh lengah dan tetap harus waspada," imbaunya.